Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Oktober 2011

D'Cinammons ♥

D’Cinnamons, “Invasi” dari Bandung


“Terlanjur ingini, terlanjut sayangi, semua yang ada di dalam dirimu…” Itulah lantunan syair D’ Cinnamons di akhir refrain lagu bertajuk “Semua Yang Ada” di dalam kemasan album Good Morning. Album ini diluncurkan pekan lalu di Jakarta.


Suara lantang milik Diana Widoera yang kerap disapa sebagai Dodo, mengingatkan kita pada vokal milik Dolores, dari The Cranberries. Di antara banyaknya grup band yang bermunculan, kehadiran D’Cinnamons dengan pilihan musik mellow dan suara vokalis yang khas lewat keserakan suaranya, mungkin bisa menjanjikan. Band yang diproduksi oleh Pops Musik ini, pekan lalu tampil dalam format showcase di tengah penggemar barunya.


Personel grup band yang terdiri dari Ismail Bonaventura yang biasa disapa Bona—pemain gitar akustik dan vokal latar, Dodo, dan Louies Laura Lalitanaya yang dipanggil Laut, bermain sebagai bassis. Dodo selain memainkan gitar dan vokal utama, juga bertindak sebagai perangkai syair dan lirik lagu.


“Band yang pasti selama ini cukup keras. Kami memberi yang sedikit mellow. Selain itu terlalu banyak band yang liriknya maskulin. Kami memilih nuansa itu,” ujar Dodo lagi.


Saat ditanya kenapa hanya Dodo yang menggarap baik syair hingga lirik, bagi personel lainnya hal itu telah menjadi karakter yang ingin dibawa oleh D’Cinnamons dalam penampilannya. Kelembutan syair dan kelembutan musik, di sela nada yang dinamis dan eksploratif. “Kami tekankan konsep easy listening, dengan instrumen akustik gitar dan vokal yang soulful dan natural,” ujarnya.


Dalam syair, grup ini sering kali berbicara tentang cinta bernuansa sedih, bahagia bahkan patah hati. Lagu bernuansa semacam itu misalnya lagu-lagu bertajuk “Mayday”, “I’m in Love”, “So Would You Let Me Be”, “Ku Yakin Cinta” dan “Loving You” yang semuanya ada di album perdana mereka ini. Ada juga syair lagu “Good Morning” – yang kemudian menjadi tajuk album – mengisahkan tentang kehidupan mereka ketika berada di kota Bandung. “’Good Morning’ misalnya, mengisahkan tentang suasana bahagia orang ketika menyambut pagi hari,” tambah Bona.


Untuk album ini, kelompok yang terinspirasi oleh John Mayer, Alansi dan Dave Matthews Band menghasilkan 6 lagu dalam rbahasa Inggris, dan 4 lagu berbahasa Indonesia. Menurut Bona, mereka ingin lagu-lagunya berbahasa Inggris tapi album kali ini label major (PT Aquarius Musikindo, red) menginginkan agar beberapa lagu mereka dihadirkan dalam syair berbahasa Indonesia.


Kafé dan Band


Perkenalan sesama personel pun cukup panjang. Dodo mengaku dekat dengan Laut sejak taman kanak hingga sekolah lanjutan atas, sedangkan perkenalan mereka dengan Bona terjadi ketika sama-sama berkuliah di Institut Teknologi Bandung di tahun 2003. Grup mereka pun pada awalnya masih ada dua cowok lagi yaitu di vokal dan drum.“Sekarang kami bertigalah,” kata Dodo.


D’Cinnamons berdiri pada September 2004 dan selama setahun sebelumnya ngafe di Bandung bersama sebuah band Irish Coffee. “Kami jenuh dan sepakat membubarkan Irish Coffee dan berganti nama dengan visi lebih pada rekaman dan membuat karya sendiri,” papar Dodo.


D’Cinnamons berasal dari kata “kayu manis” yaitu rempah beraroma khas yang kerap dicampur pada kue yang istimewa. Mereka mulai membuat lagu sejak 2004 itu dan manggung di kafé juga dalam siaran di radio Paramuda dengan acara yang judulnya “D’Cinnamons Love Acoustik Session” mengudara sejak Januari hingga Juni 2005.


Baru pada 2007, Dodo, Laut dan Bona siap mematangkan karyanya dalam album Good Morning yang diproduksi Pops Musik. “Kami memakai kalimat yang menurut dan terkesan menyapa pecinta musik saat pertama kali berkarya,” ujar Dodo, yang ngefans berat pada vokal Alanis Morrisette itu. Selamat pagi dan selamat datang, D’Cinnamons!
(Sihar Ramses Simatupang)


* Sedikit cerita tentang D’Cinnamons, band asal Bandung ini personilnya merupakan alumni SMA St Aloysius Bandung (angkatan 2001). Sejak SMA, Dodo (sang vokalis) memang sudah sering bawain lagu Zombie miliknya The Cranberries. (Someone from Bdg)


About D’Cinnamons


Proudly we introduce D’Cinnamons, a feminine unplugged-acoustic music concept. We’re “born” in Sept 2004, with lead vocal n rythm: Dodo, Lead guitar n vocal: Bona, Acoustic Bass n vocal : Laut. We choose acoustic guitar as our red line in produce music, so we only use acoustic guitar n bass instrument. Our music is pretty simple, if it’s genre has to be “cage” let’s call it pop. Just that simple. Our soulful n natural vocal makes it sound tasty. A simple harmonization by Bona and Laut make it sounds light n crunchy. We start our music carier by cafe-2-cafe “system”, where everyone came there to hear live music they want. Yes, the first gigs is always soooo hard, thanks to God who always keep us goin’, whatever happen on stage n back stage. We believe we’re still a “baby”, so let us grow n we’ll see what next can we do.


Our team: We never forget how hard our team performance work on stage, thankfully we have our best team ever. Pungky is our Stage Manager and Personal Manager, he always be a good Sound Engineer, this hardworking-man always put humors, support, n good advise when everything feels so bored. He can be our Trash Can too, (so sorry Punk, sometimes we’re just wanna bang u out.. hohoho). Our additional percussion player is Kang Heru, his touch perfectly colours our music on stage. We “found” him at… or he “found” us at Istana Plaza Foodcourt, where we perform regularly in 2005. We’re so lucky, cos at that time, D’Cinnamons really looking for percussion player, and he just “POP!” There he is.. one of our best team. He always accompanied with Firman, our cute, funniest person who always make our tour full of laugh. It’s really really nice, to work with them !


You can grab our debute album which has been released at 8th January 2007, at Aquarius music store! In this our first album, GOOD MORNING, we proudly introduce D’Cinnamons with a feminine acoustic unplugged concept. It consist of 10 songs, with our hits single LOVING YOU IT HURTS SOMETIME. In All song we produced, we choose acoustic guitar as the red line, so we use purely acoustic guitar and acoustic bass as the only instrument. For nuance in every single song, BONGKY BIP, our producer, add some string, percussion, and accordion. We’re amazed by his touch, every song become more alive!


GOOD MORNING means we really want to delighfully greet the world of music, especially in Indonesia, and South East Asia countries. We believe that our music can be accepted well, yes, we accepted thankfully all of the support, love, hate, and all good critics from our best listener, you guys r d’best!


Proudly we introduce D’Cinnamons, a feminine unplugged-acoustic music concept. We’re “born” in Sept 2004, with lead vocal n rythm: Dodo, Lead guitar n vocal: Bona, Acoustic Bass n vocal : Laut. We choose acoustic guitar as our red line in produce music, so we only use acoustic guitar n bass instrument. Our music is pretty simple, if it’s genre has to be “cage” let’s call it pop. Just that simple. Our soulful n natural vocal makes it sound tasty. A simple harmonization by Bona and Laut make it sounds light n crunchy. We start our music carier by cafe-2-cafe “system”, where everyone came there to hear live music they want. Yes, the first gigs is always soooo hard, thanks to God who always keep us goin’, whatever happen on stage n back stage. We believe we’re still a “baby”, so let us grow n we’ll see what next can we do.


Our team: We never forget how hard our team performance work on stage, thankfully we have our best team ever. Pungky is our Stage Manager and Personal Manager, he always be a good Sound Engineer, this hardworking-man always put humors, support, n good advise when everything feels so bored. He can be our Trash Can too, (so sorry Punk, sometimes we’re just wanna bang u out.. hohoho). Our additional percussion player is Kang Heru, his touch perfectly colours our music on stage. We “found” him at… or he “found” us at Istana Plaza Foodcourt, where we perform regularly in 2005. We’re so lucky, cos at that time, D’Cinnamons really looking for percussion player, and he just “POP!” There he is.. one of our best team. He always accompanied with Firman, our cute, funniest person who always make our tour full of laugh. It’s really really nice, to work with them !


You can grab our debute album which has been released at 8th January 2007, at Aquarius music store! In this our first album, GOOD MORNING, we proudly introduce D’Cinnamons with a feminine acoustic unplugged concept. It consist of 10 songs, with our hits single LOVING YOU IT HURTS SOMETIME. In All song we produced, we choose acoustic guitar as the red line, so we use purely acoustic guitar and acoustic bass as the only instrument. For nuance in every single song, BONGKY BIP, our producer, add some string, percussion, and accordion. We’re amazed by his touch, every song become more alive!


GOOD MORNING means we really want to delighfully greet the world of music, especially in Indonesia, and South East Asia countries. We believe that our music can be accepted well, yes, we accepted thankfully all of the support, love, hate, and all good critics from our best listener, you guys r d’best!


Laut bio;
Louise Laura Lalitanaya, A.K.A LauT (born September 14, 1980) is the bassist player for D’Cinnamons, born and raised in Jakarta, Indonesia, and gain more life experience in Bandung, West Java since the year 2000 and went to university in Institut Teknologi Bandung. By majoring Graphic Design, she began to continue the creative way of thinking and life, which actually already been in her blood, likewise, her mother have the sense of art of a gigantic pine tree in the woods.


LauT played bass for the first time at a gig in one of her friends birthday party (1998), playing songs from Cake and Nirvana. Many time before that she starts to play music in a band with friends in her high school, SMU St. Ursula, as a guitarist, vocalist, drummer (ooo heck, just once) playing songs from The Corrs, U2, Oasis, and a lot more including local Indonesian bands. In 2001 LauT performed as a bassist player at “MakelArs”, Parahyangan University, Bandung. Since then, she continue to play bass in many band projects: YellowSkinned, Cora, Under Rock, Elastisah, NuPort, Irish Coffee, Dinner Killers, Rantai, and since 2004 till now with D’Cinnamons…


LauT is so eclectic, with multiple and varied stylistic influences, including Pop, Rock, Metal, jazz, Blues, and hip-hop/rap. For her, listening to music can be so entertaining yet so boring. At that moment, creating a song for herself can be so entertaining. First song she wrote is “U Know I Do”, dedicated for her someone special in 1996. Music is also an expression from a person, as well as building a character for the person. How good can a Bob Marley for being so mellow and romantic, how groovy Basia is, how powerfull can a Lennon be, that’s something about someone. Besides, Dave Matthews Band, Alanis Morissette, Lisa Loeb, Sade, Jack Johnson, The Beatles, George Michael, Bryan Adams, Craig David, Jamiroquai, Bjork, TuPac, Eric Clapton, Nathan East, Phil Collins, Sting, Sinatra, Live, Incubus, Slipknot, KoRn, Elastica, Kittie, OTEP, Soulfly, Sepultura, DevilDriver, RedHotChilliPeppers, Rage Against the Machine, even Agnes Monica and Inul Daratista can be such an influence for her. wRoCK oN!!!!


Dodo bio ;


“If you had a dream, just stick to it. & it’ll come true, if you don’t ever give up. Don’t let anybody ever tell you, that you can’t do that dream.” This phrase said by Mike Portnoy, Dream Theater’s drummer. I know it’s sounds so cliche, and maybe to early. But that’s what I’ll keep forever in my mind. D’Cinnamons is my first recording band. I met Bona at Aloysius junior high school. The first time I met him, I know that he’s the one. Haha. The one who can understand n support my vision in makin music.The one who wanna grow with me.


2 years swimming cafe-2-cafe makes me bored. I wanna learn to make my own song, I said. This first album is really my first songs, so I believe I have to learn much more to make better n better pieces.


I was born in 1983, at 16 March. My father is a doctor, my mother is an apothecary, so I was born in the world of medicine “department”. But they are really support me though. Thankyou Dad,Mom, for everything, everything, and everything. I know it’s hard to understand n match two different world perfectly, but you always love me, support, care of me, n protect me. I love, n keep my father doctrine of hardworking. He said it’s better to start something big from zero. Don’t let anybody let you down. I love you, Dad.


My favourite musician is Goo Goo Dolls, I love John style in his acoustic guitar. Dave Matthews Band, Dave’s vocal is so click with my ear. They are number one for me, vocally, and musically. Alanis Morisette have an electrical lyrics, her point of view amaze me, number one lyrics for me, number two is John Mayer.


I hear every music, I believe music is never ending journey. I’m an ordinary human, I need to learn and learn from every talented artist in this holy God universe, for introspect and develop myself.


Here’s another side of my life… it’s Pet. I love turtle, tortoise. They’re very cute. I love to keep them, cos their longlife, and they have “survival mode” when i forgot to feed them in a week… hoho… and of course cos someday I can give them to my son, and grandson. I think it’s really cool to receive a living creature heritage from my grandmother.hoho. There’s no favourite colour for me, cos every colour have their own expression. Well, that’s all from me, thanks guys!


Regards,


DODO


Bona bio ;


My music background started when I was a little boy. I joined a choir group when I was in kindergarten. And then, when I was 4th grade primary school, I once again join a choir group for Christmas Caroling at Sheraton Inn Bandung. At junior highschool, I joined a marching band called Top D&BC (Top Drum & Bugle Corps) as a trumpet player. Then I stopped my activity at the marching band when I was 2nd grade in senior highschool.


I start playing guitar when I was 3rd grade of junior highschool. Honestly, it was my sister who made me playing the guitar. I’m “obsessed” with my guitar because my sister can play the intro of Come As You Are (Nirvana). From that on, I start to playing guitar, and my 1st song to learn is When I Come Around by Green Day. After that, I start a band with my friends named D’Quarto Plus Band. I was a drummer for D’Quarto Plus. For a few years, I played drum and trumpet. Then I joined Lampoe Neon Band and played as a trumpetist, with my friend Dodo. We played a song of SaveFerris, Reel Big Fish, Etc. Then Lampoe Neon changed, and I play guitar. With new formation, we played Save Ferris, Cokelat, The Cranberries, etc. After we graduate, me and Dodo and a few friends decided to make an acoustic band, simplicity in concept. Then Hendy, our former vocalist named the band “Irish Coffee”. We played top 40s song acoustically. Then Irish Coffee changed to D’Cinnamons, still playing acoustic, with new formation: Dodo, Bona, Laut.


My Inspiration and my influence mostly from foreign artist. Such as John Mayer, Jack Johnson, King of Convenience, Al Di Meola, Carlos Santana, Etc.


(D’Cinnamons Home)


sumber : http://hitamputihkita.wordpress.com/2007/09/20/laguku/

Sabtu, 01 Oktober 2011

Yang Pertama, yang Terlupakan ♥

Kassian Cephas (1844-1912): Yang Pertama, yang Terlupakan

Kassian Cephas memang bukan tokohn nasional yang dulunya menenteng senjata atau berdiplomasi menentang penjajahan bersama politikus pada zaman sebelum dan sesudah kemerdekaan. Ia hanyalah seorang fotografer asal Yogyakarta yang eksis di ujung abad ke-19, di mana dunia fotografi masih sangat asing dan tak tersentuh oleh penduduk pribumi kala itu. Nama Kassian Cephas mungkin baru disebut bila foto-foto tentang Sultan Hamengku Buwono VII diangkat sebagai bahan perbincangan.

Dulu, Cephas pernah menjadi fotografer khusus Keraton pada masa kekuasaan Sultan Hamengku Buwono VII. Karena kedekatannya dengan pihak Keraton, maka ia bisa memotret momen-momen khusus yang hanya diadakan di Keraton pada waktu itu. Hasil karya foto-fotonya itu ada yang dimuat di dalam buku karya Isaac Groneman (seorang dokter yang banyak membuat buku-buku tentang kebudayaan Jawa) dan buku karangan Gerrit Knaap (sejarawan Belanda) yang berjudul "Cephas, Yogyakarta: Photography in the Service of the Sultan".

Dari foto-fotonya tersebut, bisa dibilang bahwa Cephas telah memotret banyak hal tentang kehidupan di dalam Keraton, mulai dari foto Sultan Hamengku Buwono VII dan keluarganya,bangunan-bangunan sekitar Keraton, upacara Garebeg di alun-alun, iring- iringan benda untuk keperluan upacara, tari-tarian, hingga pemandangan Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Tidak itu saja, bahkan Cephas juga diketahui banyak memotret candi dan bangunan bersejarah lainnya, terutama yang ada di sekitar Yogyakarta. 



Berkaitan dengan kegiatan Cephas

memotret kalangan bangsawan Keraton, ada cerita yang cukup menarik. Zaman dulu, dari sekian banyak penduduk Jawa waktu itu, hanya segelintir saja rakyat yang bisa atau pernah melihat wajah rajanya. Tapi, dengan foto-foto yang dibuat Cephas, maka wajah-wajah raja dan bangsawan bisa dikenali rakyatnya.

Masa-Masa Keemasan Cephas

Cephas pernah terlibat dalam proyek pemotretan untuk penelitian monumen kuno peninggalan zaman Hindu-Jawa, yaitu kompleks Candi Loro Jonggrang di Prambanan, yang dilakukan oleh Archeological Union di Yogyakarta pada tahun 1889-1890. Saat bekerja, Cephas banyak dibantu oleh Sem, anak laki-lakinya yang juga tertarik pada dunia fotografi. Cephas juga membantu memotret untuk lembaga yang sama ketika dasar tersembunyi Candi Borobudur mulai ditemukan. Ada sekitar 300 foto yang dibuat Cephas dalam proyek penggalian itu. Pemerintah Belanda mengalokasikan dana 9.000 gulden untuk penelitian tersebut. Cephas dibayar 10 gulden per lembar fotonya. Ia mengantongi 3.000 gulden (sepertiga dari seluruh uang penelitian), jumlah yang sangat besar untuk ukuran, waktu itu.

Beberapa foto seputar candi tersebut dijual Cephas. Alhasil, foto-foto buah karyanya itu menyebar dan terkenal. Ada yang digunakan sebagai suvenir atau oleh-oleh bagi para elite Belanda yang akan pergi ke luar kota atau ke Eropa. Album-album yang berisi foto-foto Sultan dan keluarganya juga kerap diberikan sebagai hadiah untuk pejabat pemerintahan seperti residen dan asisten residen. Hal itu tentunya membuat Cephas dikenal luas oleh masyarakat kelas tinggi, dan memberinya keleluasaan bergaul di lingkungan mereka. Karena kedekatan dengan lingkungan elite itulah sejak tahun 1888 Cephas memulai prosedur untuk mendapatkan status "equivalent to Europeans" (sama dengan orang Eropa) untuk dirinya sendiri dan anak laki-lakinya: Sem dan Fares.

Cephas adalah salah satu dari segelintir pribumi yang waktu itu bisa menikmati keistimewaan-keistimewaan dan penghargaan dari masyarakat elite Eropa di Yogyakarta. Mungkin itu sebabnya karya-karya foto Cephas sarat dengan suasana menyenangkan dan indah.

Model-model cantik, tari-tarian, upacara-upacara, arsitektur rumah tempo dulu,dan semua hal yang enak dilihat selalu menjadi sasaran bidik kameranya. Bahkan, rumah dan toko milik orang-orang Belanda, lengkap dengan tuan-tuan dan noni-noni Belanda yang duduk-duduk di teras rumah, juga sering menjadi obyek fotonya.

Cephas lahir pada 15 Februari 1844 dari pasangan Kartodrono dan Minah. Ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah anak angkat dari orang Belanda yang bernama Frederik Bernard Fr. Schalk. Cephas mulai belajar menjadi fotografer profesional pada tahun 1860- an. Ada tiga orang Belanda yang membekalinya dengan ilmu fotografi, yaitu Isidore van Kinsbergen, Simon Willem Camerik, dan Isaac Gronemen. Selain itu, Cephas juga mendapat pengetahuan tentang teknologi kamera dari kalangan penguasa serta pemegang supremasi pengetahuan tertinggi di masa itu.

Sekitar tahun 1863-1875, Cephas sempat magang di sebuah kantor milik Isidore van Kinsbergen, fotografer yang bekerja di Jawa Tengah. Status sebagai fotografer resmi baru ia sandang saat bekerja di Kesultanan Yogyakarta. Sejak menjadi fotografer khusus Kesultanan itulah namanya mulai dikenal hingga ke Eropa.

Terlindas Semangat Revolusi

Meski demikian, dalam khazanah fotografi Indonesia, nama Kassian Cephas tidak seharum nama Mendur bersaudara, yakni Frans Mendur dan Alex Mendur. Mereka berdua adalah fotografer yang dianggap sangat berjasa bagi perjalanan bangsa ini. Merekalah yang mengabadikan momen-momen penting saat Soekarno membacakan proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Karya-karya mereka lebih disorot masyarakat Indonesia karena dianggap kental dengan suasana heroik yang memang pada masa itu sangat dibutuhkan.

Foto-foto monumental karya Mendur Bersaudara, mulai dari foto Bung Tomo yang sedang berpidato dengan semangat berapi-api di bawah payung, foto Jenderal Sudirman yang tak lepas dari tandunya, foto sengitnya pertempuran di Surabaya, hingga foto penyobekan bendera Belanda di Hotel Savoy, menjadi alat perjuangan bangsa dan menjadi bukti sejarah terbentuknya negara ini. Di awal-awal kemerdekaan dan revolusi, tentu saja foto-foto Mendur Bersaudara tadi terus diproduksi oleh penguasa dan pelaku sejarah untuk mengawal semangat bangsa ini. Foto-foto karya mereka dicetak dalam buku-buku sejarah dan menjadi bacaan wajib siswa sekolah, mulai dari tingkat dasar sampai tingkat doktoral.

Sementara foto-foto Cephas yang penyebarannya sangat terbatas lebih cocok masuk ke museum atau dikoleksi oleh orang-orang yang menjadi kliennya atau para kolektor. Kandungan foto karya Cephas dinilai tidak mendukung suasana pergolakan yang tengah berlangsung saat itu. Bahkan foto-fotonya yang menonjolkan tentang keindahan Indonesia, potret raja-raja dan serta para bangsawan yang di pandang sebagai “pro status quo”. Makanya fotonya jarang dilirik.

Perbedaan zamanlah yang membuat foto-foto karya Cephas dan Mendur Bersaudara saling bertolak belakang. Kalau foto karya Mendur Bersaudara memperlihatkan sosok Bung Karno yang hangat, flamboyan, dan penuh semangat kerakyatan, justru foto buatan Cephas menampilkan sosok raja yang dingin, sombong, dan sangat feodal. Bila foto-foto para pejuang wanita yang juga anggota palang merah di kancah pertempuran disuguhkan Mendur Bersaudara, justru foto-foto gadis cantik, manja, dan ayulah yang ditawarkan Cephas. Maka wajar bila foto-foto Mendur Bersaudara dicari dan dilirik orang,sedangkan foto-foto Cephas tenggelam dalam pelukan para kolektor.

Kini Kassian Cephas hanya tinggal kenangan. Foto-foto tentang dirinya pun tersembunyi entah di mana. Hanya ada satu buah foto yang menjadi bukti bahwa ia pernah ada, yakni foto dirinya setelah menerima bintang jasa “Orange-Nassau” dari Ratu Wilhelmina pada tahun 1901.

*Dari berbagai sumber

Teks: Bonny Dwifriansyah
Foto: Priambodo Prayitno dan Feri Latief